Cerita Siswa dan Alumni

Cerpen: MISTERI RUMAH NENEK

Oleh: Siti Atika Zahra (kelas 5/ Imam Syafi’i/ SDITM Gunung Terang)

Aku terdiam, mataku menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu, dan memiliki banyak sarang laba-laba serta berdebu.

Aku menghela nafas perlahan, ketakutan. Terbayang olehku, apa yang di katakan teman-temanku …

Beberapa bulan yang lalu, aku pernah bercerita pada mereka tentang rumah nenekku. Bangunan tua yang sudah hampir ratusan tahun ini, membuat mereka yakin bahwa rumah nenekku itu berhantu. Maka dari itu, aku menjadi sangat ketakutan.

Angin semilir berhembus dari luar. Aku jadi semakin merinding. Padahal sebelum teman-temanku berkata bahwa rumah nenekku berhantu, aku belum pernah merasakan ketakutan seperti ini.

“Charyl, ayo makan malam!” aku mendengar suara mama yang memanggilku. Dengan segera, aku meninggalkan kamar dan pergi ke ruang makan.

Aku duduk di kursi makan. Hm, sepertinya enak … Ada nasi goreng, ayam bakar, sup sayur, serta teh lemon hangat. Oh ya, rumah nenekku ini berada di puncak. Aku sering bermain ke kebun teh yang tidak berada jauh dari rumahnya.

“Charyl, besok, sehabis sarapan, kita bantu Nenek bersihkan gudang ya? Kasihan, gudang sudah lama tidak di bersihkan,” ujar mama sembari menuangkan teh lemon di termos ke gelasku.

Hatiku tiba-tiba merasa kecut. Gudang? Aku pernah ke gudang rumah nenek. Keadaannya amat menyeramkan. Gelap, kotor, dan lembap. Gudang berada di bawah tanah. Kata teman-temanku, hantu suka di ruangan yang gelap dan lembap.

Aku makan dengan perasaan tak enak. Rasanya, ada yang mengganjal di pikiranku. Setelah menghabiskan makan  malam, aku segera tidur.

***

“Charyl, bangun! Kamu ingat kan, rencana apa kita pagi hari ini?” aku membuka kelopak mata. Tampak mama yang memegang kemoceng dan sapu.

“Ehm … eh, iya, Ma,” balasku. Mama langsung menyodorkan sapu. Aku mengikuti mama yang melangkah ke ruangan bawah tanah.

Seperti dugaanku, keadaan gudang memang sangat menyeramkan. Aku dan mama menyapu, sedangkan nenek mengelap dan membersihkan barang-barang di gudang.

Walaupun lampu sudah di nyalakan, entah kenapa, aku masih merasa takut. Sekelebat bayang-bayangan seperti selalu muncul di mataku. Tetapi, papa, mama, dan nenek seperti tidak melihat apa-apa. Apa ini hanya khayalanku semata?

Aku menyapu debu-debu dan sampah-sampah kecil yang tampak seperti karpet di gudang ini. Kecoa dan laba-laba juga tak jarang kutemui.

Mataku memicing. Seperti ada sesuatu di balik almari kayu jati berwarna cokelat pudar. Aku mencoba meraihnya. Dan … dapat! Lukisan itu tidak tampak begitu jelas, namun yang pasti itu lukisan seorang anak perempuan yang memakai gaun. Aku menoleh pada mama.

“Ma, itu lukisan, lukisan siapa?” tanyaku sembari menunjuk lukisan itu. Mata nenek membulat.

“Aduh … Charyl … kamu temukan di mana itu, Cu? Nenek sudah lama mencarinya. Itu lukisan Ibu Nenek alias nenek moyang kamu …,” tutur nenek. Ia mengambil lukisan itu dariku, dan menatapnya sebentar. Nenek mengelap lukisan itu, sehingga debu yang menutupi hampir sebagian besar lukisan itu tak nampak.

Aku terdiam sejenak. Mama tampak memperhatikan lukisan itu.

“Jadi .. bagaimana dengan gudang? Kita jadi tidak, membersihkannya?” tanyaku di tengah kesunyian.

“Oh, oh iya, Nenek lupa. Sebentar ya, Nenek yang memasang lukisan ini di ruang tengah. Kamu di sini saja, ya!” ujar nenek sembari menuju ruang tengah.

“Aku ikut, Bunda,” kata mama tiba-tiba.

“Eh, Ma! Aku ikut dong…,” kataku. Mama berhenti di ambang pintu.

“Kamu di sini saja, ya. Sapu dulu. Nanti mama sama nenek ke sini lagi, kok,” ujarnya sembari menutup pintu gudang.

“Ah ..,” hatiku langsung menciut. Sendirian … di gudang?!! Itu hal terburuk yang pernah kurasakan.

Aku menatap debu-debu yang masih harus kubersihkan. Aku menghela nafas sejenak, lalu kembali menyapu.

“Hai! Siapa namamu?” aku berbalik. Ada seorang anak perempuan yang sepertinya sepantaran denganku.

“Namaku? Namaku Charyl,” aku terdiam sejenak. Siapa anak ini? Bagaimana bisa ia berada di sini? Mataku penuh selidik.

“Tenang saja. Aku bekerja di rumah ini. Jangan takut …,” kata anak itu dengan lembut.

“Benarkah? Lalu, kenapa aku baru melihatmu sekarang?” ucapku dengan nada bingung.

“Aku baru bekerja beberapa hari ini. Namun, aku tidak tinggal dan hanya bekerja beberapa kali sehari,” balasnya berusaha meyakinkanku. Aku tersenyum datar memandangnya. Entah kenapa, aku seperti pernah melihat wajah itu.

“Oh ya, siapa namamu?” tanyaku.

“Emora,” balasnya. Lalu, kami mengobrol sebentar. Menurutku, Emora anak yang baik. Ia juga membantuku membersihkan gudang. Dia sangat telaten, Emora membantuku membersihkan gudang ini sampai benar-benar bersih dalam waktu tak sampai satu jam.

“Charyl, aku ingin memberikanmu ini. Jaga baik-baik, ya!” ucapnya seraya memakaikan gelang di lenganku. Gelang yang bagus ..

“Terima ka …,” aku menoleh. Bagaimana bisa? Emora sudah menghilang.

Tak berapa saat kemudian, terdengar suara tapakan kaki. Nenek dan mama membuka pintu. Aku menoleh ke mereka.

“Ma, kok lama sekali, sih, memasang lukisannya?” tanyaku dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak? Mereka di ruang tengah hampir satu jam. Untung saja ada Emora yang menemaniku.

“He he he.. maaf ya, Nak. Tadi mama mengobrol dengan nenek. Ngomong-ngomong, bersih sekali gudangnya. Kamu enggak capek, ngerjainnya sendirian?” tanya mama sembari matanya melihat seisi gudang.

“Tadi, Emora yang membantuku,” jelasku. Mata nenek membulat.

“Emora? Siapa Emora?” tanya nenek dengan bingung.

“Itu lho, Neek …. Anak yang bekerja di rumah ini. Dia anak yang manis dan lembut. Emora juga sangat telaten membantuku membersihkan gudang,” tuturku dengan nada gemas.

Tiba-tiba, nenek membawaku ke ruang tengah. Ia menunjuk lukisan yang terpampang dengan jelas di dinding.

“Apa wajahnya seperti ini?” tunjuknya ke lukisan itu.

Aku menelan ludah. Bukankah … bukankah itu lukisan nenek moyangku? (PAB/140205)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *