Oleh Ibu Nurmalia Syihli, S.Pd

(Guru SDIT Muhammadiyah Gunter)

 

Penerimaan Lingkungan

Sama-sama kita ketahui usia anak SD kelas VI memiliki dinamika perkembangan yang unik dan khas, mereka memiliki kecendrungan bermain sebagai bentuk refleksi dari tugas perkembangannya. Akan tetapi disamping itu mereka mulai ingin diperlakukan bukan sebagai anak-anak lagi sebagai bentuk dari perkembangan masa pubertas. Kondisi seperti ini mengakibatkan anak-anak menjadi kurang stabil dalam memanage dirinya sendiri.

 

Terkadang mereka merasa tidak mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya karena kita kadang belum mampu menangkap sign yang anak-anak keluarkan baik melalui bahasa verbal maupun nonverbal. Kecendrungan yang kuat ketika anak-anak tidak mendapat dukungan dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya menjadikan mereka berusaha mencari dukungan dan peralihan dari lingkungan sekitarnya. Setiap anak menginginkan dirinya bisa di terima dilingkungan tempatnya berada. Ingin di akui keberadaan dirinya, diterima sebagai teman, dihargai pendapatnya, dan diajak bermain dalam kelompok tersebut. Untuk mencapai kebutuhan tersebut, seorang anak pasti mencoba menyesuaikan dirinya dengan teman-temannya. Ia tidak mau dianggap berbeda.

 

Jika lingkungan anak memang memberikan pengaruh-pengaruh buruk untuk perkembangan mereka, maka wajar jika mereka terpaksa mengikuti keburukan teman-teman tersebut, walau hati kecilnya pun mengerti bahwa yang ia lakukan salah. Semua ia lakukan demi pergaulan.

 

Seringkali orang tua menuntut anak menjadi baik, tanpa memperhitungkan pengaruh buruk dari lingkungan. Bisa jadi orangtua merasa telah memberikan pendidikan yang baik di rumah, sehingga menuntut anak supaya bisa seperti yang dididikkan orangtua tersebut. Tetapi selama kebaikan itu tidak bisa diterima di lingkungan bermain anak, maka akan sulit bagi anak untuk melakukannya.

 

Seperti misalnya, sulit bagi seorang anak untuk tidak berkata kasar dengan bahas ”lu-gue”, bokap-nyokap,  jika seluruh teman-temannya menggunakan bahasa kasar tersebut untuk berkomunikasi sehari-hari.

Jika orangtua terlalu memaksa anak untuk mengikuti nilai-nilai yang dianut dirumah, dengan resiko ia ”berbeda” dengan teman-temannya, dikhawatirkan ini menjadi tuntutan yang terlalu tinggi terhadap anak, karena akan membuat anak gagal dalam pergaulannya. Bisa jadi anak memilih ”backstreet” dengan gaya pergaulan yang berbeda di lingkungan teman-temannya, namun menampilkan pribadi palsu di depan orangtuanya agar tampak seperti yang diinginkan orangtuanya. Akibat lain jika anak dipaksa ”berbeda”  dari lingkungannya adalah anak menjadi pemurung, penyendiri dan tidak percaya diri. Ia memilih menutup diri dari teman-temannya dan ini akan membuatnya apatis dalam kesendiriannya.

 

Itu sebabnya, tugas orangtua adalah mencarikan lingkungan yang sesuai dengan standar pendidikan yang diberikan orangtua di rumah. Apabila ternyata lingkungan bermain anak memiliki standar nilai yang jauh berbeda, dan orangtua tak mampu menjauhkan anak dari lingkungan tersebut, maka mau tak mau tuntutan kepada anak pun harus lebih realistis. Jangan menuntut anak terlalu jauh berbeda dengan lingkungannya.

 

Akhlak Karimah

Akan luas sekali, jika kita membicarakan bagaimana mendidik anak agar memiliki akhlaqul karimah, akhlak yang mulia. Bagaimana berakhlak terhadap orangtua, guru, saudara, teman dan orang lain, juga masjid, Al-Qur’an dan lingkungan sekitar. Namun yang penting diperhatikan adalah teladan dari orangtua dan para pendidik  akan menjadi kunci pokok keberhasilan dalam sisi ini.

 

Anak memerlukan pola akhlak yang bisa dicontohnya langsung tanpa harus banyak berteori. Kemudian contoh tersebut terus-menerus diulang dalam sebuah wujud pembiasaan, agar tubuh menjadi karakter kepribadian. Dibutuhkan kesabaran yang tinggi untuk mewujudkannya dan, tentu saja dibutuhkan waktu yang relatif lama. Selain contoh di atas ada beberapa tehnik komunikasi yang dapat dikembangkan untuk pembentukan akhlak anak-anak kita. Apakah tehnik komunikasi itu? Mengapa dapat membentuk akhlak anak-anak? Nantikan jawabannya disesi berikutnya. Semoga bermanfaat. (EBS/140210)

 

 ”Ya Allah, bimbinglah senantiasa anak-anakku ke jalan Mu yang lurus. Walaupun jika untuk menuju ke sana perlu melewati jalan yang panjang, melelahkan dan bahkan menyakitkan, biarlah itu dilewati oleh anak-anakku, asalkan mereka tetap di jalan Mu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *