Cerita Siswa dan Alumni

The Story of Dolphin

oleh:  Salwa Yumna Soyu,VI

Kejadian  itu kembali terekam dalam memoriku. Jeritan dan tangisan para makhluk hidup di laut terus terngiang-ngiang di telingaku. Pada waktu itu, kami bagaikan berada di medan perang melawan para sekutu yang menjebol pertahanan kami. Aku benci mereka. Tidakkah mereka tahu bagaimana rasanya?

       

  Samar-samar kudengar suara gerombolan manusia diatas sebuah kapal, diantara deru ombak. Rencana busuk itu kembali terulang. Manusia memang tak punya perasaan! Dengan begitu mudahnya, mereka menghancurkan kehidupan kami. Mereka memang sudah dibutakan dengan kenikmatan dunia. Mereka mencari uang dengan merugikan makhluk lain. Sangat kejam!

        Aku terisak. Sudah cukup, kedua kakek dan nenekku mati diledak bom. Tolong jangan kedua orangtuaku juga mati. Aku tak sanggup hidup sendirian. Aku belum sanggup! Oh, Tuhan, mengapa mereka tak pernah sadar? Dan malah terus mengulang rencana pengeboman untuk menangkap ikan dengan besar-besaran? Licik.

Drrrtttsyyy … syhhhh …

Suara decitan kapal itu yang tampaknya hendak membelok untuk menepi di sebuah pesisir pantai. Aku memperhatikan Pak Kapal itu dengan seksama. Aku kenal kapal itu. Dia pengangkut para nelayan dan para perajin kesenian laut. Di sana. Di dalam kapal itulah, para manusia yang tak punya perasaan telah merencanakan sesuatu yang amat merugikan kami.

      Kapal itu bukanlah kapal yang mewah lagi megah. Itu hanya kapal tua dengan cat besi yang berkelupas dan sudah banyak berkarat. Goresan-goresan hitam karena sering berkelana di samudera yang terkadang terkikis dengan bebatuan menjadi hiasan kapal tua itu. Kapal itu tak terlalu besar. Tapi, bobot yang dia tampung amat besar. Dia yang mengangkut hasil laut setelah penangkapan ikan. dia yang mengangkut para manusia licik itu.

      “Hai Lumba-lumba kecil, Delphiness!” sapa Pak Kapal ramah dengan senyuman cerobong asapnya yang sudah amat tua.

      “Hai juga, Pak Kapal!” sapaku balik. Aku ikut tersenyum. Sambil memamerkan loncatanku yang baru. Picratan air asin itu mengenai besi tua Pak Kapal. Dia tampak merasa geli.

      “Haha. Bagus, Delphiness! Kau memang anak yang pandai. Sayangnya, ada kabar buruk yang akan menantimu,” suara Pak Kapal agak mengecil. Ada penyesalan dalam suaranya.

      “Apa itu, Pak Kapal?” tanyaku pura-pura tak tahu.

      “Para Nelayan merencanakan pengeboman untuk penangkapan ikan secara besar-besaran. Aku harap, kau dan keluargamu selamat,” doanya. Aku tersenyum.

      “Aku sudah tahu. Aku mendengarnya dari mereka ketika mereka membicarakannya di atas sana. Aku juga berharap begitu. Aku sungguh tak mau kehilangan keluargaku.” Ucapku.

      “Wah, kau memang tajam pendengarannya. Hebat sekali!” puji Pak Kapal lagi. Aku malu.

      “Terimakasih Pak Kapal. Emh, jika boleh tanya, rencana busuk itu kapan akan dilaksanakan?” tanyaku pelan-pelan. Pak Kapal tampak berusaha mengingat-ingat.

“Kalau kudengar sehabis mereka acara makan siang, akan dilaksanakan besok. Oh Tuhan, begitu cepatnya hari berlalu! Sekarang sudah sore, dan sebentar lagi malam tiba. Kau harus memberitahukannya ke lainnya!” Pak Kapal tampak panik. Aku mengangguk.

       “Ya sudah, aku permisi dahulu ya, Pak Kapal,” pamitku. Lalu melompat-lompat dengan lihai menuju perkumpulan para makhluk hidup di laut.

       “Hati-hati ya, Delphiness!” pesan Pak Kapal. Aku berseru dari kejauhan.

       “Iya!”

***

 

“Mereka, para manusia licik itu telah merencanakan pengeboman untuk menangkap ikan secara besar-besaran! Mereka akan melakukannya sama seperti lima tahun yang lalu. Oleh karena itu, persiapkan keperluan kalian. Sudah banyak korban pada masa itu. Jangan sampai korban tambah banyak berjatuhan!” seru Pak Sharkande, Hiu yang baik dan bijaksana. Para warga panik seketika. Kejadian mengerikan itu akan terekam ulang dengan tragis!

      “Dari mana Pak Sharkande tahu?” tanya seekor Ikan Pari.

      “Anak lumba-lumba ini yang memberitahukannya,” ucap Pak Sharkande percaya.

      “Bagaimana bisa, Tuan yang bijaksana dan tegas ini mempercayai seekor anak lumba-lumba yang belum diketahui kebenaran dari ucapannya? Dia dapat berbohong!” maki seekor kura-kura ketus. Aku tak percaya, masih ada yang tak percaya acara peledakan ikan itu terulang kembali.

      Acara debat pendapat itu berlangsung sampai memakan waktu setengah jam. Nyaris saja, terjadi pertengkaran pada kelompok yang percaya dengan kabar itu dan tidak. Akhirnya, mereka pun mempercayainya. Walau setengah hati. Kami pun sibuk mengurus diri.

***

Kelabu kehitaman menampakkan dirinya di angkasa. Rintik-rintik hujan mulai mencampur dengan air asin ini. Aku mulai merasakan hawa dingin memasuki ragaku. Kutengahdakan kepalaku. Memandang angkasa yang kian makin gelap. Aku berhenti bermain, lalu berenang memasuki terumbu karang yang cukup besar, itulah rumahku.

        “Mama, bolehkah kumasuk?” tanyaku di depan kamar beliau. Terdengar suara dari dalam.

        “Boleh saja. Silakan masuk, Dolphinnes,” kata seekor lumba-lumba yang lebih besar dariku (tentu saja). Warna kulitnya abu-abu muda licin.

      “Terimakasih, Mama. Bolehkah, aku berbicara sesuatu sebentar dengan Mama?” pintaku berharap. Mama mengangguk kecil. Aku tersenyum, lalu masuk ke dalam.

      “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Dolphinnes?” tanya Mama lembut.

      “Mama lihat, sepertinya bentar lagi akan terjadi badai. Aku tak tahu pasti. Jadi, aku ingin meminta pendapat. Apakah para nelayan licik dan jahat itu akan tetap melakukan rencananya apa tidak? Aku takut sekali, Mama. Aku tak mau kehilanganmu,” tuturku dengan isakan kecil. Bulir-bulir air mataku jatuh di pipikku. Aku tak tahu bagaimana selanjutnya kehidupan kami jika kejadian tahun silam itu terulang kembali. Aku tak mau para nelayan licik itu kembali berhura-hura di atas penderitaan kami.

       “Tenanglah, Nak. Mama yakin, Allah akan melindungi kita. Mama juga takut kehilanganmu,” ucap Mama lirih. Dia memelukku erat. Aku dapat mendengar isakannya.

      “Ma, aku minta maaf jikaku salah,” pintaku. Mama tersenyum sambil melepas pelukannya.

      “Tentu saja, Mama memaafkanmu.” Mama tersenyum hangat.

      “Terimakasih. Baiklah, aku keluar dahulu ya,” pamitku. Sambil keluar dari ruangan gua ini. Aku berenang mengitari ruanganku. Berpikir bagaimana selanjutnya kehidupanku.

***

“Ayo, segera kita lakukan!” ajak seorang nelayan. Sepertinya ketua.

       “Tapi, hujan turun dengan derasnya. Kau yakin, tak akan terjadi badai?” tanya nelayan lainnya ragu. Nelayan yang mengajak mengernyitkan dahinya.

       “Ah, sudahlah. Tak usah takut dengan hujan! Cih, kalian memang pengecut,” ejeknya dengan muka samar. Para nelayan merasa diremehkan.

       “Oke, ayo. Tapi, jika badai datang, kaulah pertanggungjawabnya,” tantang seorang nelayan.

       “Oke, kuterima tantanganmu. Kuyakin, badai tak akan datang pada hari baik kita. Malah, matahari kuyakin akan segera muncul,” ucapnya dengan nada tinggi. Mereka semua pun segera menuju kapal.

       “Ayo, kita bawa kapal ini ke tengah laut,” ajak nelayan lainnya. Mereka pun bekerjasama.

Setelah kapal tidak lagi menepi, mereka pun segera menaiki kapal dan mengendarai menjauh dari pesisir pantai. Mereka bersiap-siap dengan dinamitnya masing-masing. Tak sabar dengan keuntungan apa yang akan mereka peroleh.

       Byuur! Byuuur!

Suara dinamit dilempar ke laut. Tak menunggu lama, dinamit itu meledakkan isinya. Membuat kebisingan yang sangat hebat. Kami, para binatang dan tumbuhan laut terkejut.

      “Oh … tidak!! Tolonglah kami …!” kudengar teriakkan para ikan. Aku merinding ketakutan. Laut sebelah barat telah hangus dengan ikan-ikan tergelempar-lempar tak berdaya. Jahatnya.

Duarrr!

Suara ledakan yang teramat dahsyat. Tidak, bukan dinamit yang ikut meledak. Kuintip, ternyata sebuah petir panjang yang mengkilat-kilat dengan ganasnya menyambar dinamit ketika tepat akan meledak. Aku menganga. Kejadian itu tepat di depanku. Badanku terasa ingin meledak.

Sempat kulihat dengan samar-samar, ledakan itu sempat mengenai ujung Pak Kapal. Kapal itu seketika oleng, dan tak lama kemudian kapal itu ambruk ke laut dengan jeritan superkeras para manusia licik itu, dan seketika aku tak sadarkan diri. Mungkinkah aku mati?

***

 

Gelap. Sunyi. Itulah yang kurasakan. Mungkin aku sudah mati. Rasanya, aku ingin menangis. Begitu jahatnya manusia. Mereka tak punya perasaan. Aku ingin mereka merasakan penderitaan kami. Hm, bagaimana nasib para nelayan licik itu? Apa mereka juga ikut mati di tengah laut dengan ulahnya mereka sendiri? Yeah, kutaktahu. Yang kuinginkan, laut dianggap. Aku ingin kami dianggap bahwa kami itu berguna dan butuh kehidupan yang layak. Bukan akhir hidup dengan kematian oleh dinamit mereka. Bisakah itu terjadi?

       Kumohon. Sadarlah, kalian manusia. Apakah mereka tak tahu rasanya? Lestarikan laut. Jagalah dan rawatlah bersama. Sama seperti kalian merawat uang dengan amat baik. Hingga sangat berambisi memiliki banyak uang. Semangatlah untuk merawat laut. Karena di laut banyak keuntungan besar. Dan pakailah dengan baik. Jangan berlebihan karena dapat merusak ekosisitem. Cintailah laut, maka kita akan dapat mengertinya.

      Mari lestarikan laut! Kuyakin, manusia yang berakal sehat mampu mengalahkan hawa nafsunya. Go love beach!( PAB)

 

 

 

 

One Reply to “The Story of Dolphin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *